Back to Kabar PeTIK
sejarah pesantren petik

Sejarah Pesantren Teknologi Informasi dan Komunikasi YBM PLN

Pesantren Teknologi Informasi dan Komunikasi (Pesantren PeTIK) bermula dari keberadaan Yayasan Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shodaqoh PLN (Yayasan LAZIS PLN) yang sekarang berubah nama menjadi Yayasan Baitul Maal PLN (YBM PLN).

Berawal dari asa yang terpendam, dalam namun berakar sangat kuat. Akar yang berfundamen dan berpotensi untuk melahirkan spirit besar dan mulia. Merancang peradaban (baca, menghargai tinggi nilai-nilai kemanusiaan).

Rancangan peradaban itu terkuak setelah Yayasan LAZIS PLN mencanangkan perlunya didirikan lembaga pendidikan berbasis teknologi informasi yang Islami. Gaung pencanangannya bersambut dan disambut oleh dinamika pemusyawaratan jajaran Pengurus Yayasan LAZIS PLN. Alhasil rencana pendirian pesantren berbasis teknologi informasi disetujui dan tersembulah nama Pesantren Teknologi Informasi dan Komunikasi atau disingkat PeTIK. Pesantren ini bebas biaya untuk Dhuafa.

Tak lama setelah nama disepakati, berdirilah tanggal 22 November 2010. Awalnya proses belajar dan mengajar menempati Ruko dibilangan Cinere, Kota Depok, kemudian pada bulan Februari 2011 menempati tanah seluas 2337 meter persegi yang berlokasi di Jalan Mandor Basar  Nomor 54, RT. 01/001, Rangkepanjaya, Pancoran Mas, Depok 16435, Jawa Barat. (Belakang Masjid Dian Al-Mahri (Masjid Kubah Emas), Depok).

Pesantren PeTIK menganut sistem belajar dan bermukim. PeTIK didirikan dengan maksud untuk menjawab berbagai fenomena sosial yang ada ditengah-tengah masyarakat, di mana tidak sedikit masyarakat yang kurang mampu  kesulitan mendapatkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi  (perguruan tinggi).  Hal ini disebabkan, antara lain, mahalnya biaya pendidikan dan tuntutan pemenuhan kebutuhan pokok harian untuk bertahan hidup yang juga tinggi.

Jika kita lihat ditengah-tengah masyarakat masih banyak orang-orang cerdas yang terabaikan hanya karena alasan klasik; ketidak-berdayaan atas tuntutan biaya tinggi. Tak heran, orang-orang yang mempunyai semangat belajar yang tinggi, semangatnya terbatasi. Batasan tersebut berdampak pada pengetahuan dan ketrampilan yang mereka miliki rendah, sehingga tidak pada posisi untuk bersaing diera global. Walhasil, rendahnya pengetahuan dan ketrampilan mereka, kelayakan mendapatkan pekerjaan hanya berujung digigitan jari. 

Lahirnya Pesantren PeTIK untuk menjawab fenomena sosial yang ada di masyarakat, yakni membentuk anak bangsa yang tri-unggul. Cerdas beragama, Cerdas Intelektual, dan Cerdas Sosial.  Tujuan akhirnya, lahir generasi muda islam yang menguasai teknologi informasi dengan pemahaman tauhid yang lurus dan benar sesuai Alquran dan As-Sunnah. Menjadikan keduanya sebagai hukum dan ketetapan yang pasti dan tidak merubahnya.

Back to Kabar PeTIK